Hai, calon pengantin! Selamat ya, bentar lagi mau naik ke pelaminan. Pasti sekarang kepala udah pusing tujuh keliling mikirin persiapan, mulai dari catering, undangan, baju, sampai... susunan acara! Apalagi kalau kamu dan pasangan berencana mengadakan pernikahan adat Sunda. Wah, auto deg-degan soalnya prosesinya banyak banget, kan?
Tenang, guys! Santai dulu. Aku bakal kasih bocoran lengkap banget tentang susunan acara pernikahan adat Sunda dari awal sampai akhir. Bukan cuma daftar acaranya aja, tapi juga makna di balik setiap prosesi biar kamu paham kenapa sih harus repot-repot ngelakuin semua ini. Dengan ngerti maknanya, insyaAllah kamu bakal jalanin hari H dengan lebih khusyuk dan bermakna.
Yuk, kita bahas satu per satu! Jangan lupa siapin catatan ya, soalnya ini penting banget buat briefing keluarga nanti.
Daftar Isi (Biar Gak Bingung)
-
Kenapa Harus Nikah Adat Sunda?
-
Pra-Nikah: Pemanasan Sebelum Hari H
-
H-1: Malam Mempersiapkan Diri
-
Hari H: Puncak Acara yang Dinanti
-
Tips Sukses Biar Acara Lancar
-
Penutup
1. Kenapa Harus Nikah Adat Sunda?
Sebelum masuk ke susunan acara, kita ngobrol dulu yuk. Mungkin ada di antara kamu yang mikir, "Ah ribet amat sih, mending resepsi biasa aja, modern gitu." Atau mungkin orang tua yang maksa harus pake adat, tapi kamu sendiri gak terlalu paham.
Eits, jangan salah! Nikah adat Sunda itu bukan cuma soal ritual, tapi soal doa dan harapan yang dibungkus dalam simbol-simbol indah. Setiap prosesi punya filosofi yang dalam banget, relevan buat kehidupan rumah tangga kalian nanti. Plus, secara estetika, pernikahan adat Sunda itu instagramable banget! Bayangin kamu duduk cantik di pelaminan dengan pakaian pengantin Sunda yang elegan, dikelilingi keluarga dan sahabat. Dijamin feed IG kamu bakal kece abis!
Jadi, buat kamu yang lagi galau milih konsep, yuk pertimbangkan adat Sunda. Selain melestarikan budaya, kamu juga lagi "mengemas" doa orang tua dan leluhur dengan cara yang paling indah.
2. Pra-Nikah: Pemanasan Sebelum Hari H (Jangan Sampai Skip!)
Banyak yang kira persiapan nikah adat Sunda cuma dimulai H-1. Padahal, ada prosesi-prosesi penting jauh sebelum hari pernikahan. Ini dia:
a. Neundeun Omong (Menyimpan Janji)
Prosesi pertama adalah neundeun omong atau "menyimpan janji". Ini tuh kayak tahap penjajakan. Pihak keluarga calon pengantin pria datang ke rumah calon pengantin wanita untuk menyampaikan niat baik. Bedanya sama lamaran, di sini belum ada ikatan resmi. Mereka cuma "menitipkan" niat, bahwa suatu saat akan datang lagi untuk melamar.
Sekarang sih prosesi ini jarang dilakukan, karena biasanya calon pengantin udah saling kenal dan mantep duluan. Tapi kalau kamu mau menjunjung tinggi adat, gak ada salahnya melakukan ini sebagai bentuk penghormatan pada keluarga.
b. Narosan / Nyeureuhan (Lamaran)
Ini dia yang ditunggu! Narosan atau lamaran adalah prosesi resmi di mana pihak pria datang membawa seserahan awal. Biasanya isinya:
-
Daun sirih lengkap (buat simbol penghormatan)
-
Uang pengikat (panyangcang) sebagai simbol kesanggupan biaya nikah
-
Cincin sebagai tanda jadi
Di momen ini juga kedua keluarga duduk bareng menentukan tanggal baik, tempat akad, dan hal-hal teknis lainnya. Biasanya, pihak pria gak boleh pulang dengan tangan kosong, mereka bakal dikasih makanan khas dari pihak wanita sebagai tanda diterimanya lamaran.
c. Seserahan / Nyandakeun (Penyerahan Barang)
Nah, kalau yang ini biasanya paling ditunggu-tunggu calon pengantin wanita! Seserahan atau nyandakeun adalah prosesi di mana pihak pria menyerahkan barang-barang kebutuhan calon istri.
Jumlahnya harus ganjil, biasanya 5, 7, atau 9 macam. Isinya beragam, bisa berupa:
-
Perhiasan (emas, berlian, dll)
-
Pakaian (baju, kebaya, kain, sepatu)
-
Perlengkapan kecantikan (makeup, skincare, parfum)
-
Perlengkapan ibadah (sajadah, mukena, Al-Qur'an)
-
Makanan khas (kue tradisional, buah-buahan)
-
Perlengkapan rumah tangga
Makna dari seserahan ini adalah kesiapan calon suami untuk menafkahi istrinya kelak. Uniknya, di beberapa tradisi, pihak wanita juga bakal membalas dengan seserahan. Ini simbol saling melengkapi, bukan cuma satu arah.
Tips buat kamu:
Buat wishlist dari sekarang, biar pas seserahan barangnya sesuai sama yang kamu mau. Komunikasikan sama pasangan, jangan sampai salah beli, nanti malah jadi rebutan 😅
3. H-1: Malam Mempersiapkan Diri (Biasanya di Rumah Wanita)
Nah, kalau prosesi ini biasanya dilakukan sehari sebelum akad, di rumah calon pengantin wanita. Ini dia rangkaiannya:
a. Ngaras (Membasuh Kaki Orang Tua)
Siap-siap bawa tisu, soalnya prosesi ini paling haru. Ngaras adalah prosesi di mana kedua calon pengantin (biasanya calon wanita ditemani calon pria) melakukan sungkem dan membasuh kaki kedua orang tuanya dengan air kembang.
Ini adalah simbol bakti seorang anak kepada orang tua yang telah membesarkannya. Selain itu, ini juga momen memohon maaf atas segala kesalahan dan meminta izin serta restu untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Gimana caranya?
-
Siapkan air dalam wadah, campur dengan bunga (biasanya mawar, melati, kenanga)
-
Calon pengantin berlutut di depan orang tua
-
Membasuh kaki ayah dan ibu dengan air kembang
-
Mencium tangan orang tua
-
Orang tua memberikan nasihat dan doa
Dijamin, di momen ini semua pada nangis. Termasuk kamu!
b. Siraman (Memandikan Calon Pengantin)
Setelah ngaras, dilanjutkan dengan siraman. Calon pengantin wanita akan "dimandikan" secara simbolis oleh orang tua dan para sesepuh (biasanya 7 atau 9 orang, jumlahnya ganjil).
Air yang digunakan adalah air kembang tujuh rupa (mawar, melati, kenanga, dll). Ini melambangkan penyucian diri lahir dan batin sebelum memasuki kehidupan baru yang suci.
Prosesinya unik, ada yang namanya Ngecagkeun Aisan, yaitu calon pengantin digendong secara simbolis oleh ibunya menggunakan kain menuju tempat siraman. Sang ayah menemani sambil membawa lilin. Maknanya? Ini simbol lepasnya tanggung jawab orang tua kepada anaknya yang akan segera berkeluarga. Haru lagi, kan?
c. Ngerik (Merias Wajah)
Setelah siraman, dilanjutkan ngerik. Ini adalah prosesi membersihkan bulu-bulu halus di wajah calon pengantin (biasanya di kening, pelipis, dan alis). Dilakukan oleh orang tua atau perias khusus.
Tujuannya biar nanti saat dirias, hasilnya lebih cantik dan berseri. Secara simbolis, ini melambangkan keindahan lahir dan batin dalam mengarungi rumah tangga. Plus, ini juga jadi momen quality time ibu dan anak sebelum hari besar.
d. Ngeuyeuk Seureuh (Malam Ramu Sirih)
Prosesi ini biasanya dilakukan pada malam hari, setelah maghrib atau isya. Ini adalah prosesi yang paling sarat nasihat. Dipimpin oleh pangeuyeuk (tetua adat), calon pengantin akan diberikan wejangan tentang kehidupan rumah tangga.
Ada berbagai benda simbolis yang digunakan:
-
Beras: lambang kesejahteraan
-
Kelapa: lambang cita-cita tinggi
-
Gula merah: lambang manisnya hidup
-
Lilin: lambang penerangan hati
-
Daun sirih: lambang kerendahan hati
Di sini juga calon pengantin secara resmi memohon restu di hadapan keluarga besar. Prosesi ini diakhiri dengan doa bersama.
4. Hari H: Puncak Acara yang Dinanti
Akhirnya, hari yang ditunggu tiba! Ini dia urutan acara di hari pernikahan. Catet baik-baik ya!
a. Mapag Panganten (Menjemput Pengantin Pria)
Prosesi pertama adalah penyambutan rombongan pengantin pria yang datang ke lokasi acara (biasanya rumah wanita). Ini bukan sambutan biasa, tapi penuh dengan seni dan adat.
Rombongan pria akan disambut oleh Ki Lengser (tokoh adat yang memimpin jalannya acara), para penari pager ayu (gadis-gadis pembawa payung dan kipas), dan iringan musik degung khas Sunda. Suasana jadi meriah banget!
Pengantin pria akan dipayungi dan diantar menuju tempat acara. Setelah itu, ibu dari pengantin wanita akan mengalungkan rangkaian bunga melali kepada pengantin pria. Ini simbol penerimaan dengan hati terbuka dan kasih sayang dari keluarga baru.
b. Akad Nikah (Inti dari Segalanya)
Ini dia momen sakral yang jadi inti pernikahan. Sebelum akad dimulai, ada prosesi ngabageakeun (penyerahan calon pengantin pria dari keluarganya kepada keluarga wanita).
Saat akad berlangsung, kedua mempelai biasanya disatukan dalam satu tudung saji atau kain putih. Ini melambangkan penyatuan dua insan yang masih suci dan murni, dilindungi dalam naungan restu keluarga.
Setelah ijab kabul diucapkan dan dinyatakan sah, biasanya ada sungkem singkat kepada orang tua sebagai bentuk syukur. Tepuk tangan meriah pun pecah! Selamat, kamu resmi menjadi suami istri!
c. Saweran (Menuai Nasihat dan Berkah)
Usai akad, acara dilanjutkan dengan saweran. Ini prosesi yang seru dan melibatkan banyak orang. Kedua mempelai duduk berdampingan, lalu keluarga dan kerabat akan menaburkan campuran beras kuning, uang logam, dan permen sambil melantunkan kidung atau nasihat pernikahan.
Apa arti semua itu?
-
Beras kuning: semoga hidup makmur dan sejahtera
-
Uang logam: semoga selalu diberi kekayaan dan rezeki berlimpah
-
Permen: semoga kehidupan rumah tangga selalu manis
Para tamu biasanya berebut uang dan permen yang ditabur. Ini simbol berbagi kebahagiaan dan keberkahan dengan semua yang hadir.
d. Nincak Endog (Menginjak Telur)
Ini dia prosesi yang ikonik banget! Pengantin pria akan menginjak sebuah telur mentah hingga pecah. Telur melambangkan kesucian dan kesiapan.
Setelah telur pecah, pengantin wanita akan membasuh kaki suaminya dengan air kembang dan mengelapnya hingga bersih. Maknanya? Kesiapan suami sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, dan kesiapan istri untuk melayani suami dengan penuh cinta dan bakti. Ini bukan soal superioritas, tapi soal peran masing-masing dalam rumah tangga.
e. Meuleum Harupat (Membakar Lidi)
Prosesi ini unik banget! Pengantin wanita akan menyalakan sebuah lidi (harupat) yang dipegang pengantin pria menggunakan lilin. Setelah menyala, mereka bersama-sama memadamkannya.
Api melambangkan amarah atau ego. Prosesi ini bermakna bahwa dengan kelembutan dan kasih sayang seorang istri, ia mampu meredam amarah atau emosi suami. Sebaliknya, suami pun harus bisa mengendalikan egonya. Tujuannya satu: keharmonisan rumah tangga.
f. Huap Lingkung (Saling Menyuapi)
Nah, kalau ini prosesi yang paling romantis! Kedua mempelai akan saling menyuapi makanan, biasanya nasi kuning atau makanan tradisional yang sudah disiapkan. Ini simbol bahwa dalam kehidupan rumah tangga, mereka harus saling memberi, saling melengkapi, dan saling menjaga.
Gak cuma suami istri, kadang orang tua juga ikut menyuapi kedua mempelai. Ini simbol kasih sayang orang tua yang terakhir kali secara langsung, sekaligus restu mereka untuk kehidupan baru anaknya.
g. Muka Panto (Membuka Pintu)
Prosesi ini biasanya dilakukan setelah resepsi atau sebelum acara selesai. Ini prosesi yang lucu dan seru karena melibatkan adu pantun antara pengantin pria (biasanya diwakili juru bahasa) dengan pengantin wanita (atau keluarganya) yang ada di dalam pintu.
Mereka akan berdialog dengan pantun, saling berbalas. Biasanya pantunnya berisi pujian, nasihat, dan ungkapan cinta. Setelah tiga kali berbalas pantun, barulah pintu dibuka dan mereka bertemu.
Maknanya? Untuk memasuki kehidupan rumah tangga yang baru, diperlukan kesabaran, keyakinan, dan komunikasi yang baik. Gak bisa asal masuk, harus pake "kunci" yang tepat.
h. Pabetot Bakakak Hayam (Menarik Ayam Bakar)
Ini biasanya jadi prosesi penutup yang seru dan bikin ngakak. Kedua pengantin akan diberikan satu ekor ayam bakar utuh (bakakak). Mereka lalu menariknya berlawanan arah. Siapa yang dapat bagian terbesar?
Tapi tunggu, yang dapat bagian terbesar justru harus berbagi dengan pasangannya! Maknanya dalam banget: rezeki yang didapat dalam rumah tangga, baik besar maupun kecil, harus selalu dibagi dan dinikmati bersama. Gak ada yang boleh pelit atau egois.
i. Ngaleupas Japati (Melepas Burung Merpati)
Sebagai penutup rangkaian acara, kedua orang tua atau kedua mempelai biasanya melepas sepasang burung merpati putih ke udara. Ini simbol yang sangat indah: orang tua telah "melepas" anak-anaknya untuk menjalani hidup mandiri dengan keluarga barunya.
Bagi kedua mempelai, ini juga harapan agar mereka dapat "terbang" tinggi bersama, meraih cita-cita dan kebahagiaan, saling setia bagai sepasang merpati.
5. Tips Sukses Biar Acara Lancar (Catet Ini!)
Biar acara pernikahan adat Sunda kamu lancar tanpa hambatan, ini dia tips dari aku:
-
Komunikasi dengan Keluarga: Pastikan kedua keluarga paham rangkaian acara. Ajak rapat keluarga, jelaskan setiap prosesi biar gak ada misskomunikasi.
-
Sewa Penata Rias yang Berpengalaman: Makeup pengantin Sunda itu khas, beda sama makeup modern biasa. Cari MUA yang memang ahli di bidangnya.
-
Sewa WO (Wedding Organizer) yang Mengerti Adat: Kalau budget memungkinkan, sewa WO yang paham adat Sunda. Mereka bakal bantu koordinasi dari A sampai Z.
-
Siapkan Fisik dan Mental: Rangkaian acaranya panjang dan melelahkan. Jaga kesehatan dari jauh-jauh hari, perbanyak istirahat, dan kelola stres dengan baik.
-
Dokumentasi: Pastiin fotografer dan videografer kamu paham momen-momen penting yang gak boleh terlewat. Soalnya sayang banget kalau momen haru atau lucu kelewatan.
-
Nikmati Setiap Proses: Yang paling penting, nikmati setiap momen. Jangan terlalu stres mikirin acara sampai lupa bahwa ini adalah hari bahagiamu. Tersenyumlah, rasakan harunya, dan bersyukur.
6. Penutup: Selamat Menempuh Hidup Baru!
Nah, itu dia guys, susunan acara pernikahan adat Sunda yang lengkap banget dari pra-nikah sampai selesai. Ribet? Iya, sedikit. Tapi percayalah, setiap prosesi punya makna yang indah dan bakal jadi kenangan seumur hidup.
Dengan ngerti filosofi di balik setiap acara, kamu bakal menjalani hari pernikahan dengan hati yang lebih tenang dan penuh makna. Bukan cuma sekadar pesta, tapi juga momen sakral yang memberkati perjalanan rumah tangga kalian.
Selamat ya buat calon pengantin! Semoga lancar acaranya, diberi kelancaran rezeki, dan yang paling penting, langgeng terus sama pasangan sampai maut memisahkan. Jangan lupa bahagia, ya!
FAQ Seputar Susunan Acara Pernikahan Adat Sunda
1. Apakah semua prosesi pernikahan adat Sunda wajib dilakukan?
Tidak semuanya wajib. Rangkaian prosesi bisa disesuaikan dengan waktu, budget, dan kesepakatan keluarga. Banyak pasangan modern memilih mengambil prosesi inti seperti siraman, akad nikah, saweran, dan nincak endog agar tetap sakral tanpa terlalu panjang.
2. Berapa lama durasi lengkap pernikahan adat Sunda?
Jika dilakukan lengkap dari pra-nikah hingga hari H, rangkaiannya bisa berlangsung beberapa hari. Untuk prosesi adat di hari H saja biasanya memakan waktu sekitar 2–4 jam sebelum masuk ke acara resepsi.
3. Apakah pernikahan adat Sunda bisa dikombinasikan dengan konsep modern?
Bisa banget! Banyak pasangan menggabungkan adat Sunda saat akad atau prosesi inti, lalu menggunakan konsep modern saat resepsi. Justru kombinasi ini membuat acara terasa lebih fleksibel, elegan, dan tetap kekinian.
4. Berapa perkiraan biaya tambahan untuk prosesi adat Sunda?
Biaya tambahan tergantung kelengkapan prosesi dan vendor yang dipilih. Biasanya biaya mencakup busana adat, penata rias khusus Sunda, perlengkapan adat, hingga jasa pemandu adat. Agar lebih terkontrol, diskusikan sejak awal dengan keluarga dan wedding organizer.
5. Apakah kedua mempelai harus berasal dari Sunda?
Tidak harus. Banyak pasangan beda suku tetap memilih adat Sunda karena faktor keluarga atau kecintaan pada budayanya. Biasanya akan ada penyesuaian agar kedua belah pihak tetap merasa dihargai.
6. Prosesi mana yang paling sakral dalam pernikahan adat Sunda?
Yang paling sakral tentu saja akad nikah karena menjadi inti sahnya pernikahan secara agama dan hukum. Namun secara emosional, prosesi seperti ngaras dan siraman juga sangat menyentuh karena penuh doa dan restu orang tua.
7. Apakah prosesi adat Sunda bisa dilakukan di gedung?
Bisa. Saat ini hampir semua prosesi adat Sunda dapat dilakukan di gedung pernikahan, hotel, atau ballroom. Vendor dekorasi dan WO biasanya sudah terbiasa menyesuaikan tata ruang agar tetap sesuai pakem adat.
8. Bagaimana agar acara adat tidak terasa terlalu panjang dan melelahkan?
Kuncinya ada di manajemen waktu dan koordinasi. Pilih prosesi yang paling penting, gunakan MC atau pemandu adat yang komunikatif, dan susun rundown dengan detail. Jangan lupa jaga stamina—pengantin itu bukan robot, walaupun kadang difoto seperti patung pelaminan 😄